PERANAN EPIDEMIOLOGI DALAM PERENCANAAN KESEHATAN

Posted on March 3, 2011. Filed under: epid perencanaan, Uncategorized |


PERANAN EPIDEMIOLOGI DALAM PERENCANAAN KESEHATAN
Oleh: Prof. Dr.Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes. MSc.PH
Bagian Epidemiologi FKM Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia

A. Ilmu Epidemiologi dan Perkembangan
Satu pengertian epidemiologi yang paling sering digunakan adalah dari MacMahon dan Pugh (1970); Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan determinan frekuensi penyakit pada manusia. Terdapat tiga komponen dalam definisi tersebut yaitu frekuensi, distribusi dan determinan yang menjadi dasar pendekatan dalam penelitian epidemiologi. Pengukuran frekuensi penyakit berkaitan dengan kuantifikasi kejadian penyakit pada populasi manusia. Investigasi terhadap pola penyakit dalam sub kelompok termasuk dalam komponen distribusi status kesehatan dalam hal umur, seks, ras, geografi, dll. (Mac Mahon dan Pugh, 1970; Ahrens and Pigeot, 2005). Metode yang digunakan untuk menggambarkan penyakit dianggap sebagai prasyarat untuk mengidentifikasi determinan kesehatan dan penyakit pada manusia.
Definisi ini berdasarkan pada dua asumsi dasar: Pertama, kejadian penyakit pada populasi bukan suatu proses acak yang murni dan yang kedua, hal tersebut ditentukan oleh faktor penyebab dan faktor pencegahan (Hennekens dan Buring 1987 dalam Pigeot, 2005). Seperti yang telah disebutkan di atas, faktor-faktor ini harus diteliti secara sistematis pada populasi berdasarkan tempat dan waktu.
Model ekologi yang berbeda telah dipakai untuk menggambarkan hubungan timbal balik dari faktor-faktor ini yang berkaitan dengan pejamu, agen dan lingkungan. Perubahan salah satu dari tiga komponen ini, yang disebut sebagai segitiga epidemiologi, akan mempengaruhi keseimbangan diantara komponen tersebut dan dengan demikian akan meningkatkan atau menurunkan frekuensi penyakit (Mausner dan Bahn, 1974). Sehingga, penelitian tentang faktor penyebab (etiologi) perkembangan dari penyakit merupakan salah satu orientasi utama epidemiologi. Secara kompleks, segitiga epidemiologi dan tiga komponen yaitu waktu, tempat dan orang sering dipakai oleh para epidemiolog untuk menggambarkan distribusi penyakit dan determinannya. Determinan yang mempengaruhi bisa terdiri atas perilaku, kebudayaan, sosial, psikologi, biologi atau faktor fisik.
Determinan berdasarkan waktu berkaitan dengan peningkatan/penurunan selama bertahun-tahun, variasi musim, perubahan tiba-tiba dari kejadian penyakit. determinan berdasarkan tempat dapat dikarakteristikan berdasarkan Negara, zona iklim, tempat tinggal dan lebih umum berdasarkan wilayah geografi.
Determinan personal (orang) termasuk umur, jenis kelamin, kelompok suku, genetik, dan perilaku individu. Studi tentang keterkaitan antara waktu, tempat dan orang membantu untuk mengidentifikasi agen penyebab dan faktor-faktor lingkungan dan juga menggambarkan riwayat alamiah penyakit yang kemudian memungkinkan epidemiolog untuk menentukan target untuk intervensi dengan tujuan pencegahan penyakit (Detels 2002). Perspektif yang lebih luas direfleksikan dalam suatu definisi epidemiologi yang lebih komprehensif yang dikemukakan oleh Last (2001):
Studi tentang distribusi dan determinan kesehatan yang berkaitan dengan keadaan atau kejadian pada populasi tertentu dan aplikasi dari studi ini untuk mengontrol masalah-masalah kesehatan.
Dalam arti yang lebih luas kesehatan berhubungan dengan keadaan atau kejadian termasuk “penyakit, penyebab penyakit, perilaku seperti merokok, dan ketersediaan serta pemanfaatan pelayanan kesehatan” (Last, 2001). Berdasarkan definisi ini maka tujuan akhir dari epidemiologi adalah untuk meningkatkan, menjaga, dan memulihkan kesehatan. Oleh karena itu, tujuan utama dari epidemiologi dapat diterjemahkan dari dua perspektif yang tumpang tindih. Pertama adalah dari perspektif biomedik khususnya dilihat dari etiologi penyakit dan proses penyakit itu sendiri. Ini termasuk:
1. Gambaran dari spektrum penyakit, gejala penyakit untuk mempelajari berbagai dampak yang mungkin disebabkan oleh patogen khusus.
2. Gambaran riwayat alamiah penyakit yaitu sumber penyakit untuk meningkatkan ketepatan diagnostik yang merupakan isu utama dalam epidemiologi klinik.
3. Investigasi variabel genetik dan fisiologi hubungannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi dan outcome penyakit untuk memutuskan bahwa apakah hal tersebut berpotensi sebagai faktor risiko, penanda penyakit atau indikator dari tahap dini penyakit.
4. Identifikasi faktor-faktor yang bertanggung jawab dalam meningkatkan atau menurunkan risiko penyakit agar mendapatkan pengetahuan penting untuk kepentingan pencegahan
5. Prediksi trend penyakit untuk menfasilitasi penyesuaian/adaptasi kebutuhan pelayanan kesehatan di masa yang akan datang dan untuk mengidentifikasi prioritas suatu penelitian
6. Klarifikasi penularan penyakit untuk mengontrol penyebaran penyakit menular seperti menargetkan program vaksinasi.
Selanjutnya, IEA (International epidemiological Association,1975), menguraikan bahwa disiplin Epidemiologi bersama dengan bidang aplikasi seperti ekonomi, ilmu manajemen dan ilmu sosial, menyediakan metode analitik dan kuantitatif yang penting, prinsip penyelidikan yang logis dan berperan untuk pembuktian dalam hal:
1. Diagnosis, pengukuran, dan penyediaan kebutuhan kesehatan pada masyarakat
2. Penentuan tujuan umum, tujuan khusus dan prioritas kesehatan
3. Pengalokasian dan pengaturan sumber daya kesehatan
4. Penilaian strategi intervensi dan evaluasi dampak pelayanan kesehatan
Saat ini, perkembangan yang cepat dalam biologi molekuler diambil oleh para epidemiolog untuk mengukur nilai paparan, efek biologi dan karakteristik host yang mempengaruhi kerentanan sel manusia, darah, jaringan dan material yang lain. Teknik-teknik ini menambah alat-alat standar epidemiologi dalam investigasi pada level risiko yang rendah, risiko ditentukan oleh paparan yang kompleks dan modifikasi risiko oleh faktor genetik. Penggunaan penandaan biologi seperti itu dari paparan dan efek telah melahirkan epidemiologi molekular. Pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor genetik dan interaksinya dan dengan faktor lingkungan terhadap penyebab penyakit merupakan tantangan besar untuk penelitian kedepan.
Berikut ini perkenankan saya untuk memaparkan rangkaian kegiatan kontribusi epidemiologi dalam bidang perencanaan kesehatan yang telah, sedang dan sementara dalam program kerja kami.
Hadirin yang saya muliakan
B. Peran Epidemiologi dalam bidang biologi molekuler
Perkembangan epidemiologi genetika berkembang pesat pada akhir 1970 an sebagai disiplin formal dalam memahami biologi molekular suatu penyakit. Epidemiologi genetika berhubungan dengan karakteristik genetika yang dipengaruhi oleh lingkungan untuk menyebarkan penyakit pada anggota keluarga dalam suatu populasi. Tujuan utama bidang ini untuk memahami etiologi genetika penyakit dalam hal prediksi dan mendesain intervensi strategis (Ellsworth,D.L, 1991).
Sebagai ilustrasi, hubungan antara pajanan asap rokok terhadap status berat bayi lahir dengan studi kasus kontrol untuk mengukur besar risiko paparan asap rokok terhadap kejadian bayi berat lahir rendah.
Pajanan asap rokok adalah keadaan dimana ibu hamil terpajan dengan asap rokok dari suami di rumah. Hasil analisis ditemukan bagi ibu hamil yang terpajan asap rokok dari suami yang merokok lebih dari 10 batang setiap hari, memberikan risiko sebesar 3.15 kali lebih besar untuk melahirkan bayi lahir rendah dibandingkan ibu hamil yang terpajan kurang 10 batang. Begitu juga bila dibandingkan dengan kelompok yang tidak merokok dengan OR 3.13, 95%CI. 1.05-9.72.
Kajian serupa juga dilakukan oleh Rebaglianto dkk yang menemukan adanya kemaknaan antara pajanan asap rokok dengan BBLR. Berbagai riset juga telah membuktikan besar risiko kejadian BBLR dengan semakin meningkatnya jumlah batang rokok yang dihisap oleh suami. Hal ini dapat dilihat dari temuan di RS Umum Sarawak, dengan risiko BBLR bila suami merokok sebesar 1,65 kali, begitu juga temuan Wang CS. Bahwa suami merokok memungkinkan isterinya lebih mudah melahirkan bayi BBLR.
Semakin tingginya pajanan asap rokok memberi kontribusi pada efek akumulasi kandungan nikotin dalam darah, sehingga kelancaran transport nutrisi dan O2 mengalami gangguan, sehingga kebutuhan nutrisi dan O2 bagi janin untuk tumbuh akan mengalami perlambatan seiring dengan semakin tingginya pajanan asap rokok tersebut.
Hasil penelitian ini sejalan dengan analisis Misra dan Nguyen (1998), dan beberapa riset sebelumnya bahwa pajanan asap rokok berhubungan dengan berat lahir, nilai pajanan asap rokok yang ditemukan pada riset ini sebesar OR. 3.15, 95%CI. 1.32-7.55, dan temuan Dawn P.Misra dan Ruby H.N.Nguyen (1998), berikisar 2-4 kali untuk melahirkan BBLR.
Hasil Chiolero A, Bovet P, Paccaud F. Di Switserland, tentang hubungan ibu merokok dengan BBLR menemukan perbandingan perokok dan bukan perokok dengan OR. 2.7 95%C.I. 2.1-3.5. dan OR.2.1 95%C.I. 2.1. (1.7-2.5) ( Chilero, 2005).
Bagi wanita hamil, sebagai upaya melindungi janin, seluruh anggota keluarga yang lain harus berhenti juga merokok dan calon ibu sebaiknya menghindari kontak dengan siapapun yang merokok. Data Stephen G. Grant di Universitas Pitsburgh, menunjukkan bahwa wanita yang menjadi perokok pasif melahirkan bayi yang mengalami mutasi genetik, sama halnya dengan wanita perokok (Pediatrik, 2006).
Sehingga dengan mereduksi sampai pada batas normal kadar nikotin rokok kita dapat mengurangi angka kejadian BBLR secara bermakna. Berkaitan dengan itu maka penekanan PP nomor 18 tahun 1999 tentang pengamanan rokok bagi kesehatan sangat penting. Terutama pasal 4 ayat 1 kadar kandungan tar dan nikotin pada setiap batang rokok di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1,5 mg dan kandungan tar 20 mg.
Bahan kimia nikotin dalam rokok menyebabkan arteri dan vena mengecil dan memadat. Berakibat pada area pembuluh darah menjadi lebih kecil dan jumlah oxygen dan nutrient yang sampai ke janin menjadi berkurang. Dengan demikian tumbuh kembang janin menjadi terhambat. Nikotin, CO, dan bahan-bahan lain dalam rokok terbukti merusak endotel (dinding dalam pembuluh darah), dan mempermudah timbulnya penggumpalan darah.
Naira dalam British Journal of Haematology, No.2 April 2005, menjelaskan bahwa fungsi sel sel endotel adalah mengatur haematopoetic stem/progenitor cells (HSPC) bermigrasi dari darah tepi ke sum-sum tulang, dan hal tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik termasuk nikotin. Nikotin menghambat derivasi migrasi transendothel dari HSPC. Menurunnya migrasi HSPC berhubungan menurunnya aktifitas matrix metalloproteinase-9 yang dikeluarkan oleh sel sum-sum tulang dan menurunnya ekspresi CD44 pada permukaan sel sel endotel. Singkatnya pajanan nikotin menyebabkan disfungsi sel-sel endothel dan terhambatnya HSPC pada endotelhium, yang berpengaruh terhadap proses migrasinya (Serobyan, Naira. 2005), sehingga terjadi perlambatan dalam pertumbuhan janin.
Laporan penelitian dari Universitas Manchester, menjelaskan bahwa kondisi serius, termasuk kematian mendadak, meningitis, kista fibrosis, pneumonia, penyakit jantung kongenital, dan mudah terserang kanker, terjadi diantara lebih 50 jenis penyakit dan kelainan anak-anak yang berhubungan dengan perokok pasif (Kelly Liz, 2002).
Melihat penjelasan tersebut diatas maka, pengendalian pengamanan terhadap kadar nikotin pada rokok yang beredar di Indonesia harus di kontrol secara ketat, dengan menegakkan batasan nikotin yang ditoleransi sesuai PP 18 tahun 1999, dan dipebarui dengan PP Nomor 38 tahun 2000. Kehadiran nikotin pada rokok akan mengurangi aliran darah plasenta. Ini berarti, bayi hanya menerima sedikit asupan makanan yang bergizi, termasuk oksigen. Gangguan ini akan mengancam jiwa ibu dan janinnya. Gangguan plasenta yang bisa terjadi seperti luruhnya plasenta maupun plasenta previa (posisi plasenta yang menutup leher rahim sehingga menutup jalan lahir), (Hindsmarsh 2006).
Tjokronegoro (2002), Andrologi FKUI, menjelaskan bahwa racun nikotin berpengaruh terhadap spermatogenesis atau terjadinya pembelahan sperma para pria. Padahal pembelahan itu sangat kompleks yang kemudian menjadi gen dari pemilik sperma. Padahal syarat untuk dapat membuahi sel telur, sperma harus berkualitas baik. Jumlahnya cukup, kualitas yang meliputi bentuk, gerakan, dan kecepatannya harus baik (Intisari, 2002).
Dampak negatif rokok, pembelahan sel-sel akan mengalami gangguan karena nikotin yang masuk kedalam darah, sehinggan menghambat pertumbuhan janin. Akibatnya akan terjadi keguguran, bayi lahir cacat, hidung pipih atau berat badan kurang. Lebih lanjut Arjatmo, menjelaskan bahwa racun bisa masuk ke dalam tubuh perokok pasif, meski tidak merokok mereka ikut menghisap asap sampingannya sehingga tidak lepas dari dampak buruk. Karena itu bila isteri sedang hamil, jangan sekali-sekali suami merokok di dalam kamar, mobil, atau ruangan tertutup lain, untuk mengurangi dampak buruk, perokok pasif dianjurkan menyantap berbagai sayuran segar dan buah-buahan setiap hari, memasang penyaring udara dirumah atau tempat kerja, memasan tanaman pot untuk mengeliminasi gas polutan (Intisari, 2002).
Merokok bisa merusak sperma, menciutkan vitalitas dan alat vital . Sudah lama diketahui bahwa merokok bisa mengurangi jumlah sperma. Namun studi yang dipublikasikan tahun 1999 juga menunjukan adanya mutasi genetik pada sperma para pria yang rata-rata menghisap rokok sebanyak 20 batang setiap hari sekurang-kurangnya selama dua tahun. Riset lain yang dilakukan terhadap 200 pria, diketahui racun yang terkandung dalam rokok, lama kelamaan bisa mengurangi ukuran alat vital pria. Selain masuk pembuluh darah, asap rokok juga menghambat aliran darah. Hal ini akan mempengaruhi elestin ( zat yang berperan besar dalam menentukan kemampuan seksual pria), sehingga terjadi pelumpuhan zat tersebut (Ha, 2006).
Hasil analisis Cowan (1992), menjelaskan bahwa terjadinya gangguan pada plasenta, berdampak pada terganggunya pertumbuhan janin, sehinggan akan lahir BBLR. Hal ini terkait dengan menurunnya aliran darah plasenta, aktifitas janin yang menurun, perubahan histologic plasenta, serta menurunnya syntesis prostacyclin dalam arteri umbilikal, serta abnormalitas trace element cadmiun dan zinc.
Analisis genetik Grant dalam penelitiannya, membandingkan tingkat mutasi gen pada bayi yang baru lahir dari ibu yang perokok, berhenti merokok selama kehamilan, tinggal atau bekerja di lingkungan perokok atau sama sekali tidak kontak dengan perokok. Hasil temuannya bahwa ketiga lingkungan tersebut memiliki hasil yang hampir sama , kecuali pada wanita yang sama sekali tidak kontak dengan perokok, hasilnya sama sekali berbeda. Dan Barry Venette dari universitas Vermot menyarankan agar suami berhenti merokok bila isterinya sedang mengandung.
Hadirin yang saya muliakan
Berdasarkan hal tersebut maka epidemiologi molekuler memberikan rekomendasi dalam penyusunan kebijakan berupa penyusunan program struktural intervention terhadap tobacco control yang mendesak dilaksanakan untuk menyelamatkan generasi masa depan bangsa ini. Beberapa program struktural intervention yang diusulkan diantaranya;
a. Memperkuat program Larangan merokok di area publik; sekolah, universitas, masjid, rumah sakit, pasar, mall-mall dan di rumah tangga agar segera diterapkan.
b. Peningkatan pajak/tax rokok, sehingga menjadi komoditi yang ekslusive yang hanya dapat dijangkau oleh kalangan tertentu.
c. Realokasi industri tobacco ke green industri.
d. Penyediaan asuransi kesehatan (Jamkesmas, Jamkesda) bagi anggota keluarga yang tidak merokok.
e. Mendukung fatwa MUI tentang haram hukumnya merokok.
f. Temuan terakhir, adanya kandungan lemak babi pada filter rokok harus menjadi perhatian untuk melindungi konsumen muslim dan semakin mempertegas bahwa merokok itu haram.

Hadirin yang saya muliakan
C. Peran Epidemiologi dalam pemetaan Malaria
Salah satu peran penting epidemiologi dalam penyakit infeksi adalah mempelajari penyebaran penyakit dalam dimensi waktu, tempat dan karakteristik orang. Pada bahasan kali ini saya memilih penyakit malaria, dengan pertimbangan, penyakit ini mengalami kecenderungan peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu baik dalam hal insidens kasus maupun angka mortalitasnya. Sehingga badan dunia PBB, memasukkan dalam salah satu agenda MDG, pemberantasan penyakit infeksi, HIV, TB dan Malaria salah satunya.
Penyakit malaria masih merupakan masalah global terutama di negara- negara tropis yang beriklim hangat, diperkirakan 40% penduduk dunia tinggal di daerah berisiko tinggi terkena infeksi malaria.
Penyakit malaria adalah penyakit akut, dan pada beberapa kasus menjadi kronis, yang disebabkan oleh parasit Plasmodium, yang termasuk famili Plasmodiidae, ordo cocciidae dan sub orde Haemosporiidae. Hanya 4 spesies yang berkembang dalam tubuh manusia yaitu : Plasmodium vivax, plasmodium malariae, plasmodium ovale dan plasmodium falsiparum (Bruce-chwatt, 1980 dalam Haryanto 2000).
Penyakit malaria ditandai dengan munculnya gejala dan tanda-tanda demam, menggigil, sakit kepala, nyeri sendi/otot, mual, muntah, diare dan ada juga gejala lain yang tidak lazim terjadi pada manusia yaitu batuk-batuk, kepala pusing dan sakit pinggang. Gejala dan tanda malaria pada infeksi Plasmodium falsiparum dapat menyebabkan malaria yang fatal yaitu malaria cerebral yang biasanya berakhir dengan kematian.
Penyakit malaria umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk malaria yang disebut anopheles. Bila nyamuk anopheles menggigit orang yang sedang sakit malaria maka parasit akan ikut terhisap bersama darah penderita. Dalam tubuh nyamuk parasit tersebut akan berkembang dan bertambah banyak. Dalam beberapa hari, bila nyamuk itu menggigit orang yang sehat, melalui gigitan itu parasit tersebut ditularkan kepada orang itu.Parasit yang ada didalam tubuh orang itu kemudian berkembang dan bertambah banyak serta menyerang sel-sel darah merah orang tersebut.
1. Peta Spasial/Wilayah Distribusi Kasus Malaria
Peta spasial distribusi kasus malaria merupakan gambaran wilayah/geografis penyebaran kasus malaria di permukaan bumi berdasarkan lokasi/titik koordinat kasus malaria dengan penggunaan alat GPS (Global Positioning System). Berdasarkan peta distribusi kasus malaria dengan analisis SIG, maka dapat terlihat luas wilayah penyebaran kasus malaria.
Adanya perbedaan geografis ini berpengaruh terhadap pola pemukiman maupun kepadatan penduduk disuatu wilayah. Hasil analisis SIG di wilayah Kecamatan Mamuju ditemukan kantong-kantong perindukan nyamuk yaitu tambak-tambak yang tidak terurus dan daerah rawa perkotaan. Hasil peta kasus malaria, dapat membantu dalam menentukan area yang rawan kontak terhadap vektor malaria, kelompok masyarakat yang juga rentan serta alat identifikasi alokasi sumberdaya dalam rangka penyelesaian masalah penyakit malaria.
Pemetaan kasus malaria dengan pemnafaatan Sistem Informasi Geografis (SIG) secara lebih akurat dan terperinci dapat memberikan gambaran yang lebih jelas, adekuat dan akurat mengenai keadaan malaria yang sebenarnya dilapangan. Dari hasil yang demikian dapat dilakukan tindakan penanggulangan dan kontrol yang lebih terfokus dan seempiris mungkin. Peran Sistem Informasi Geografi (SIG) sebagai alat yang dapat membantu dan mendukung program penanggulangan malaria terutama dalam penemuan kasus.
Kontrol terhadap kasus maupun evaluasi terhadap pengobatan belum dapat dilaksanakan secara maksimal di Kabupaten Mamuju khususnya di Kecamatan Mamuju. Hal ini disebabkan oleh karena tidak tersedianya peta digital atau foto udara yang lebih terinci dalam rangka membuat pemetaan terhadap kasus malaria maupun penyakit menular lainnya. Selain itu ketersediaan sumberdaya dan softwere yang mendukung penanganan malaria dengan aplikasi GIS belum tersedia terutama di instansi terkait dalam penanganan malaria.
Secara umum pemetaan penyakit malaria memang sudah poluler seperti penyakit lainnya (Sipe dan Dale, 2003 dalam Aprisa 2007). Pada umumnya penelitian malaria dengan SIG hanya meninjau sisi manfaat SIG, faktor keterjangkauan dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan.
Pemetaan terhadap penyakit menular termasuk penyakit malaria akan memberikan tiga kontribusi utama yaitu
(1) dengan menggunakan peta diharapkan muncul gambaran deskriptif mengenai distribusi serta penyebaran penyakit. Peta yang akurat dalam bentuk sekuens diharapkan dapat menjawab pertanyaan apa yang terjadi dan mengapa.
(2) keberadaan peta diharapkan dapat memberikan aspek prediktif penyebaran penyakit menular.
(3) model interaktif, jika pada tahap dua, pola prediksi hanya sebatas ramalan penyakit, tetapi jika menggunakan pendekatan interaktif, kita dapat menentukan intervensi serta dampaknya bagi masa depan (Anis,2007).
2. Stratifikasi Kasus Malaria
Menurut WHO, salah satu manfaat penggunaan Sistem Informasi Geografis dalam penelitian kesehatan masyarakat adalah melakukan Stratifikasi kasus/faktor risiko. Salah satu strategis terbaik yang cocok dan ekfektif dalam pengendalian malaria adalah melakukan stratifikasi area/daerah yang rawan malaria. Program pengendalian malaria merekomendasikan pembuatan peta berdasarkan klasifikasi ini untuk memberikan gambaran jumlah area berdasarkan level/tingkatan risiko.
Penentuan wilayah dengan tingkat kerawanan secara administratif ini dimaksudkan agar penanganan malaria lebih difokuskan pada komunitas yang berisiko maupun wilayah rawan. Selain itu memberikan informasi kepada masyarakat yang ingin berpergian atau berkunjung ke daerah tersebut sehingga pencegahan penularan penyakit malaria dilakukan lebih dini. Penentuan prioritas penanganan dan penanggulangan kasus malaria berdasarkan hasil analisis SIG, akan mempermudah dalam pencapaian salah satu tujuan penanggulangan dan pencegahan malaria dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.
Dalam mendukung upaya kesehatan termasuk pencegahan dan penanggulangan kasus malaria, pada dasarnya dilakukan dengan batasan dan criteria tertentu terutama dalam mengidentifikasi daerah yang rawan terhadap penularan penyakit sehingga dapat ditentukan prioritas dalam program penanggulangan.
3. Peta Spasial Kasus Malaria Berdasarkan Ketinggian.
Kondisi lingkungan yang spesifik dapat memicu angka kejadian penyakit yang tinggi. Secara alami wilayah yang memiliki ketinggian tertentu merupakan faktor risiko lingkungan yang mendukung penularan penyakit malaria.
Hasil disitribusi kasus malaria berdasarkan ketinggian menunjukan bahwa ada kecenderungan kasus malaria pada daerah dataran rendah yaitu wilayah dengan ketinggian diantara 51 – 100 mdpl sebesar 84,2%. Penularan malaria dominan dipengaruhi oleh altitude/ketinggian. Hal tersebut berdasarkan pada peranan ketinggian mempengaruhi distribusi suhu udara yang mempengaruhi proses metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan nyamuk (Ward, 1992 dalam Saleh, 2002).
Semakin rendah ketinggian suatu tempat mengindikasikan semakin tinggi suhu udara di tempat tersebut dan sebaliknya, semakin tinggi ketinggian suatu tempat mengindikasikan semakin rendah pula suhu udara. Interval suhu udara di dataran rendah (khususnya daerah pantai) merupakan kisaran suhu udara optimum bagi metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Anopheles. Sedangkan kisaran suhu udara di dataran tinggi (khususnya pegunungan) merupakan batas bawah untuk metabolisme dan perkembangbiakan nyamuk malaria.

4. Kecenderungan Spasial Kasus Malaria.
Kecenderungan/trend spasial distribusi kasus malaria adalah hasil/output pengolahan dan analisis data spasial dengan SIG yang memberikan gambaran berupa kecenderungan kasus malaria pada letak geografis atau karakteristik wilayah tertentu.
Distribusi kasus malaria memperlihatkan kasus malaria lebih banyak terjadi pada daerah muara sungai, hal ini disebabkan pada daerah muara, aliran air sungai yang kurang deras sehingga memungkinkan untuk menjadi daerah perindukan nyamuk yang mempengaruhi penyebaran kasus pada daerah tersebut.
5. Pola Spasial Epidemiologi Kasus Malaria.
Epidemiologi spasial adalah ilmu untuk mendeskripsikan dan menganalisis keragaman geografis pada penyakit dengan memperhatikan dimensi geografis, lingkungan,prilaku, sosial ekonomi,genetika, dan factor risiko penularan. Untuk kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi penyakit, perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna daripada batas-batas administrasi pemerintahan.
Pemanfaatan aplikasi SIG dalam menganalisis pola spasial malaria bertujuan untuk mengetahui batas-batas wilayah dimana terjadi tren/kecenderungan distribusi kasus malaria, serta memprediksikan akses geografis unit pelayanan kesehatan terhadap pemukiman/lokasi kasus malaria.
Bervariasinya geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau keadaan lain mungkin berhubungan dengan 1 atau lebih dari beberapa faktor sebagai berikut:
1. Lingkungan fisis, kimia, biologis, sosial dan ekonomi yang berbeda-beda dari suatu tempat ke tempat lainnya.
2. Variasi kultural terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga, praktek higiene perorangan dan bahkan persepsi tentang sakit atau sehat.
3. Variasi administrasi termasuk faktor-faktor seperti tersedianya dan efisiensi pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan lain-lain.
Peranan migrasi atau mobilitas geografi juga turut memberikan kontribusi didalam mengubah pola penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan makin lancarnya perhubungan darat, udara dan laut.
Analisis spasial yang mampu menjadi bahan dalam pengambilan keputusan dalam penyelesaian masalah penyakit menular termasuk malaria yaitu membuat suatu sistem terpadu secara spasial dengan aplikasi Sistim Informasi Geografis (SIG) dalam memetakan, memantau kejadian penyakit menular, menganalisa lokasi rentan, menganalisa faktor-faktor lingkungan, cuaca serta modus bepergian masyarakat.
Gambaran akan penyebaran kasus malaria berupa peta diharapkan akan memberikan informasi bagi perencanaan malaria terutama dalam jaminan penyediaan reagen, alat laboratorium, obat serta sarana dan prasarana untuk menjamin kelancaran kegiatan pemberantasan malaria, mengendalikan penderita serta pengobatan. Selain itu perlu dipikirkan pula upaya tambahan seperti penyediaan makanan tambahan pada pasien. Dan kiranya dapat digunakan secara kontinu dalam menilai dan memperbaiki kinerja program, serta dapat memberi sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang malaria.
Hadirin yang saya muliakan
Rekomendasi terkait dengan berbagai temuan tersebut adalah ;
1. Meningkatkan strategi penanggulangan khususnya pada daerah-daerah angka kejadian malaria yang tinggi dengan karakteristik geografis yang mendukung penyebaran malaria.
2. Meningkatkan kegiatan surveilans malaria terutama pencatatan data-data demografi kasus malaria yang lebih lengkap dan meningkatkan penyuluhan masyarakat serta mengefektifkan kegiatan lintas program, lintas sektor dan kemitraan dengan pihak terkait.
3. Memanfaatkan teknologi GIS untuk memetakan kasus malaria, breeding site malaria dan berbagai aspek yang terkait dengan peningkatan incidense kasus malaria.
D. Penutup
Hadirin yang saya muliakan. Saat ini epidemiologi, telah berkembang dengan sangat pesat dalam berbagai disiplin kajian keilmuan, baik pada tingkat molekuler maupun ilmu sosial, dari pendekatan kuantitative bergeser ke ilmu-ilmu kualitatif. Peranan epidemiologi sebagai alat untuk menentukan distribusi penyakit sekarang tidak lagi terbatas hanya pada penyakit infeksi seperti pada fase perkembangannya. Epidemiologi telah berkembang melewati batas-batas science exacta. Dengan demikian para ilmuwan epidemiologi ke depan sangat di tuntut untuk terus memperbaharui kompetensinya, sehingga tetap dapat memberi peran terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat diberbagai aspek kehidupan yang semakin kompleks.
Terjadinya berbagai transisi dalam keilmuan termasuk epidemiologi, dari penyakit infeksi ke penyakit non infeksi (non communicable disease), dari kehidupan kultur agraris ke kultur informasi, dari struktur keluarga besar menjadi keluarga kecil, dari pola kerja kantoran menjadi lebih fleksible, memberi konsekuensi pada perubahan pola penyakit di komunitas. Berangkat dari kondisi tersebut dinamika informasi tentang masalah kesehatan akan terus berubah, termasuk faktor risiko penyakit, sehingga peran epidemiologi akan senantiasa menduduki peran strategis untuk pemecahan masalah kesehatan di masyarakat.
Daftar Pustaka
Anna Khusaemah, Ridwan. Faktor Risisko Matemal kejadian BBLR di Kab. Maros, 2002.
Argawal, KN. The Effect of Matemal Iron deficiency on The Plasenta and Fetus. In: Jellife, D.B and E.F.P. Jelliffe (ed). Advences in Intemational matemal and Child Health, Vol. 4 Oxford: Clarendon Press. 1984; 27-35.
Anis, Fuad. 2007. Medical Geography Subject Baru atau lama dengan Kemasan Baru?. Artikel. (http://bloganis.com, diakses 23/05/2009).
Azwar, Azrul. 1998. Pengantar Administrasi Kesehatan. Binarupa Aksara, Jakarta.
Benowitz NL, et.al. Ethnic difference in N-glucoronidation of nicotine and cotinine. J Pharmacol Exp Ther 291: 1196-1203, 1999..
Chalik TMA dan Umar MH. Analisa Hubungan Berat badan Lahir, Umur Kehamilan dan Kematian Perinatal . Maj. Obs.Ginek. Indon. 1982; 8 (1); 30-43.
Chilero A, Bovet P, Paccaud F. Association between maternal smoking and low birth weight in Switzerland. Swiss Medical Publishers.Ltd, 2005.
Constancia, M.at.al. Plasental specific IGF II is a mayor, modulator of plasental and fetal growth, Nature. 2002.
Cuyler Hammond, Daniel Horn, Smoke and health, Amerika Serikat, 2000.
CBN, Hak asasi Manusia dan rokok, cybermedia .cbn.net.id. 26/3/2006.
Cowan , Staphanie, Smoking and the Young A Report of the working party of the Royal College of Phsycian. London 1992.
Deskmunth, JS, Risk Factor Low birth Weight, India., CBM.com, 11/9/02.
Ellsworth, D.L. (1997) Impact of the Human Genome Project on Epidemiologi Research, in Epidemiologi review by Khoury.
Gunarso, Petrus ,dkk. 2003. Modul Pelatihan Dasar-Dasar Pengelolaan data dan Sistem Informasi Geografis. Malinau Research forest,.
Gupta, Prakash, et.al. Smokeless tobacco use, birth weight, and gestational age:population based, prospective cohort study of 1217 women in Mumbai India. www//http/BMJ.com akses 31 january 2005.
Harijanto, P.N. 2000. Malaria Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis, dan Penanganannya. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Hadidi H, Irshaid Y, et.al. Variability of coumarin 7-and 3-hydroxilation in a Jourdanian population is suggestive of a functional polymomorphisme in cytochrome P450 CYP2A6 Eur J.Clin Pharmacol 54:437-441. Medline.
Helena Luz, S.A. Relation between weight and placenta weight, . Biology of the Neonate, Mexico, 2001.
Jouni n J.K. Jakkola, Fetal growth and length of gestation in prenatal exposure to enviromental tobacco smoke Assessed by hair nicotine cencentration. EHP, volume 109. number 6 Juni 2001.
Koskela et al., Expression of CYP2A genes in human liver and extraheaptic tissue. Biochem Pharmacol 57:1407-1413, Medline. 1999.
Kelly Liz, Sembilan bulan kehamilan dan kesuburan, Arcan, Jakarta, 2002.
Laihad.J.Ferdinand dan Gunawan,Suardi.2000. Malaria di Indonesia.Depkes RI.Jakarta.
Marina Atanaka-Santos,dkk,2006. Spatial analysis for stratification of priority malaria control areas,Mato Grosso State, Brazil, Cad. Saúde Pública, Rio de Janeiro,brazil
Misra Dawn P.dan Ruby H.N.Nguyen. Environmental Tobacco smoke and Low Birth Weight; A Hazard in the workplace,1998. http//ehpnet1.niehs.gov. 18 mei 2006.
Mihi Yang, at.al. Individual Differenss in urinary cotinine levels in Japanese smokers, http/www.cebp.aacrojournals.org.2001.
Miles JS, Mc Laren AW, et.al. Identification of the human liver cytochrome P-450 responsible for coumarin 7-hydroxilase actifity Biochem J 267:363-371 , Medline, 1990.
N.A.Taslim, Pengaruh Pemberian zink dan makanan tambahan pada ibu hamil kurang energi terhadap berat lahir dan status gizi bayi, PPS-Unhas, Makassar, 2004.
Pigeot, I (2005) Handbook of Epidemiologi. Springer, Berlin.
Peraturan pemerintah RI. Nomor. 38 tahun 2000. Perubahan atas peraturan pemerintah nomor 81 tahun 1999, tentang pengamanan rokok bagi kesehatan.
Ridwan, Analisis faktor risiko BBLR di RS. Islam Samarinda, Pusat penelitian Unhas. 2002.
Ridwan, Makkaraus, Faktor risiko BBLR di RS Caterina Both, 2004.
Wang CS, Chou P. Risk factors for low birth weight among first – time mothers in southern Taiwan. Medline. BMN.com, 2001
Yusuf, Irawan. Pengantar Epidemiologi Genetika, (Bahan kuliah ; biologi molekuler, FKUH, 2004.

Make a Comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.